Monday, May 30, 2011

Aura Besi: The Battle




Dalam dada: mode baik vs mode jahat

mode baik: takpe, sabar. Dia dah banyak berjasa pada kamu. Ini untuk tarbiyah

mode jahat: agak-agak la kot, tak yah nak lekeh2 kan orang kan.Tak sabar nak blah!!

When it come to this matter, I don't like it. For sure.

Biasakan benda ni berlaku?

Live well, live hell. you choose (Rooftop Rant, Hlovate)

ps:cepat la habis buat keje!!!

Friday, May 27, 2011

Aura Besi: Muhasabah yok..


sumber gambar: sini

Sesungguhnya, segala sesuatunya sudah diatur oleh Allah,jodoh, rezeki, itu semua sudah ditiupkan semenjak masih dalam kandungan...,yang sering dilupakan adalah, kadang kita tidak mengikut sertakan ALLAH SWT dalam setiap niat.., jika memang Allah punya kisah lain dalam taqdirNya, maka ikhlaslah...

Jangan sampai Allah tidak ridho, atas kekecewaan kita atas taqdir yang sudah dipilih olehNya...

Memang, saat kita terluka, di situlah sisi kemanusiaan kita berbicara..

Saat itu, sesungguhnya adalah saat sisi kemanusiawi-an kita, fitrah kita berbicara...

Atas nama fitrah, kita berkelak bahwa kita wajar membenci,

Atas nama fitrah, kita mengizinkan diri ini untuk memendam amarah berkepanjangan,

Atas nama fitrah, kita menikmati berlama-lama tersakiti tanpa ingin menyembuhkan.

Jika memang itu adalah fitrah sesungguhnya, apakah menurut mu ALLAH Yang tak pernah membenci, ridho akan hal itu?..

Muhasabah yuk...

Ketika kita terluka,ketahuilah bahwa Allah sedang mendidik kita agar lebih sabar, lebih tabah..dan pastinya lebih kuat...
Ketika kita terluka, Allah mengajarkan bagaimana kita memaafkan..

Jadi maafkan dia dan luka yang tertinggal di hatimu :), percayalah ini tak berat..., justru keegoan kita untuk tidak memaafkanlah yang memberatkan..

Serahkan semua pada Allah yang menguasai semua sisi di hatimu, biarkan Allah yang menghapusnya dan akhirnya menggantinya dengan yang lebih baik..

Dan pada akhirnya, kelak ada rasa syukur dan Allah akan menambah nikmat kepadanya..

Semoga Allah menjadi saksi kesungguhan kita meniti jalanNya..


dipetik di sini

**Ini untuk saya

Aura Besi: Berubah


Hanya kerana saya sukar meminta bantuan orang lain
Maka ukhuwwah saya dikatakan tidak kukuh??

"Bukan masalah keluarga, tapi tak siap kerja.." . piercing

"Hopefully kamu dah insaf" . sarcastic

"Hopefully??". burning

Berubah memang payah

Mulailah dari diri sendiri
Mulailah hari ini
Mulailah dengan perkara yang kecil-kecil



**sedih+serabut!!

Thursday, May 26, 2011

Aura Besi: Down or dawn?


Down or Dawn?????
ada sikit sakit dalam dada

owh~ datanglah ikhlas!

Thursday, May 19, 2011

Incomplete


I want,
A gentle touch without guilt,
A soothing voice in my ears,

A sweet medicine of laughter,
A soft pressure on my shoulder,
The coolness of my eyes,
A blessing from above,
A pair of wings like a dove,

I want,
The other half of me.

"And among His signs is that He created for you from yourselves mates that you may find tranquility in them; and He placed between you affection and mercy. Indeed in that are signs for a people who give thought."

(al-Quran, Surah ar-Ruum, Ayat 21)

by: Muhammad Aiman Azlan


**dan saya rindu 'dia' ^__^

Nota hati untuk Aura Besi 9


Untuk diri saya yang sedang berusaha mencari titik akhir;

Hadapi hidup ini dengan gagah berani dan sabar
Hayati setiap hikmah kejadian yang berlaku dalam hidup ini dengan lapang dada
Nikmati setiap ganjaran yang diraih dalam hidup ini dengan penuh syukur.

Tak pe, penat sekarang
Tak pe, susah sekarang
Tak pe, rasa lemah sekarang

Tapi kena bangkit
Tapi kena usaha
Tapi kena terus maju

Mesti kuat
Harus kuat
Wajib kuat

Hanya diri sendiri yang boleh tolong diri sendiri~


Saturday, May 7, 2011

Warna-warni kehidupan


Allah menciptakan warna agar menjadi indah. Satu warna saja pasti membosankan. Hidup kita pun berwarna. Mata kita senang dengan aneka warna. Telinga juga senang dengan suara yang berwarna. Ada perlahan, merdu, lembut, tegas.

Dan hidup pun terasa begitu. Hidup ini indah kalau penuh warna. Sehingga tidak usah hairan Allah mempergilirkan susah, senang, dipuji, dicaci, dikasihi, dibenci, dirai, dibuang, lapang, sempit, sihat, sakit.

Demikianlah episod hidup ini.Penuh warna. Inilah ayat yang menunjukkan sikap manusia ketika menghadapi warna-warna kehidupan:

"Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo'a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo'a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan."[Yunus:12]

Begitulah sikap manusia apabila ditimpa kesusahan. Meminta-minta, menghiba-hiba, merintih-rintih. Duduk, berbaring, berdiri. Ini baik.

Tetapi ketika Allah menghentikan kesulitan kita, mengganti kesempitan dengan kelapangan, mengganti kesedihan dengan kebahagiaan, mengganti cacian dengan pujian, mengganti darjat rendah dengan ditinggikan, maka berkurang dan tidak sedikit yang hilang; rintihannya.

Allah menggolongkan orang-orang yang seperti ini, 'orang-orang yang melampaui batas'. Padahal masih punya kewajipab lain kalau Allah melapangkan iaitu rintihan.

Rintihan yang bagaimana?

Rintihan syukur!!

Allah yang sudah melapangkan. Jadi kalau begini, ujian kesempitan atau ujian kelapangan yang lebih baik? Yang lebih mudah orang mendekat dengan Allah sebetulnya adalah kepahitan, kepedihan, kesakitan, kehinaan, itu lebih membuat orang dekat dengan Allah. Banyak orang yang ketika berada dalam kesempitan, menjadi akrab dengan Allah. Tetapi setelah diuji dengan kelapangan, kesenangan, populariti, kemampuan, mulailah berjatuhan.

Ketika banyak hutang, dia menangis setiap malam, tahajud. Ketika sudah lunas hutangnya, lunas juga tahajudnya.

Mana yang lebih baik?

Banyak hutang jadi ahli tahajud, atau lunas hutang tidak jadi ahli tahajud?

Yang paling baik adalah, lunas hutang tetap jadi ahli tahajud. Dan yang paling buruk adalah, banyak hutang tapi tidak banyak ibadah.

Ujian itu boleh jadi dalam bentuk kebaikan dan keburukan. Jangan rasa kehinaan itu adalah suatu yang sangat pahit, jauh lebih bahaya lagi jika dipuji. Dipuji; cenderung untuk kita menipu diri sendiri. Kita menikmati pujian.

"Wah~ kamu kelihatan solehah sekali"

Lalu kita tersenyum simpul

"Memang begitulah keadaan saya"

Ini sudah tertipu..

Ataupun......

"Wah, abang, bacaan solatnya bagus. Merdu sekali. Saya jadi enak sekali bersolat."

Padahal Allah tahu dia tidak khusyu'. Dia berusaha membaguskan suara supaya dia dipuji makmumnya. Disisi Allah solatnya tidak ada apa-apa manfaat. Allah tahu dia tidak bersungguh,

Hati-hati jika dipuji. Itu cubaan

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cubaan. Dan kamu hanya kembali hanya kepada Kami" [Al-Anbiya':35]

Jadi kalau sudah naik pangkat, jangan berkenduri doa selamat. Tiba-tiba diberikan jawatan terus berkenduri kesyukuran. Mengapa? Ini belum tentu kurniaan Allah yang harus disyukuri.
Naik jawatan itu belum bekerjanya. Belum terbukti dia memegang amanah. Seharusnya dia "Innalillahi wa inna ilaihi roji'unn"

"Ayuh, cepat-cepat kita ke kuburun!! Lihat seperti apa pengakhiran hidup sekelian gabenur yang ada? Ada dikuburan ni orang yang berpangkat gabenur, tidak membawa apa-apa. Ini tempat pulang kita semua!!"

Seharusnya kita tak bangga dengan jawatan. Itu adalah amanah, fitnah dan cubaan.

Kita harus tahu bahawa hidup ini adalah perpindahan dari satu episod ke episod. Setiap peperiksaan yang kita lalui menyebabkan perasaan suka duka, sedih gembira.

Kata Imam Ibn Atho'illah : "....mengapa orang sentiasa resah, gelisah? Kerana hatinya terhijab tidak melihat Allah. Mata hatinya terhijab di balik setiap kejadian yang ada."

Kita hanya melihat kejadiannya, kita belum lagi melihat Allah yang membenarkan kejadian itu terjadi agar kita melihat hikmahnya. Apa keinginan Allah. Apa maksudnya Allah menyusun?

Andai kita dihina, yang menghina kita adalah makhluk ciptaan Allah. Allah izinkan makhluk ciptaannya mengeluarkan kata-kata yang kesat kepada kita. Apa kehendak Allah kepada kita? Apa susunan Allah untuk kita.

Andai kita mampu melihat Allah, maka kita akan kembali mengevaluasi diri, mengapa Allah berkehendakkan begitu. Allah berbuat sesuatu ada hikmahnya. Oh..Allah melatih kita untuk bersabar. Allah mengajar kita untuk berdoa dan mengetahui kelemahan kita. Walaupun kata-kata yang menghina tak enak menurut nafsu, namun kata-katanya benar. Tersinggung?

Maka carilah kebenaran dari kata-kata penghinaan itu. Kita akan tersinggung jika tidak melihat Allah dari kata-kata itu.

Orang yang tidak bersyukur dan sabar adalah orang yang tidak dapat melihat Allah melalui mata hatinya. Padahal setiap kejadian yang berlaku, Allah yang mengizinkannya terjadi. Tidak ada kejadian yang diciptakan Allah sia-sia. Semua ciptaan Allah sempurna. Pasti ada hikmahnya, pasti ada maknanya.

Timbulnya kerisauan, kepahitan, kehinaan, adalah kerana hijab yang menghalang yang ada di hati kita.

Allah itu selalu berbuat yang terbaik bagi hamba-hambaNya kerana Allah lebih mencintai diri kita, melebihi kita mencintai diri kita sendiri. Ujian-ujian yang bertubi-tubi yang menimpa diri kita, pahit, getir itu tidak menandakan dengan keburukan dari Allah. Menurut nabi tidak ada dosa yang akan terhapus melainkan dengan keresahan. Sakit hati, pahit, getir sekali..dan itulah yang menggugurkan dosa dia. Biasanya dosa yang terhapus adalah dosa menyekutukan Allah. Mencintai sesuatu melebihi mencintai Allah maka tebusannya adalah perihnya hati ini.

Seorang isteri yang mencintai suaminya berlebihan sehingga menuhankan suaminya seakan-akan suamilah sumber kebahagiaan, seakan-akan suamilah yang membuat dia mulia dan terhormat, ini musyrik. Allah tidak suka. Maka tebusannya adalah kepedihan di hati dia. Pedih, pilu...Tapi kalau dia berjaya menggantikan kepedihan ini untuk kembali ke Allah, maka Allah akan menggantikan kepadanya kebahagiaan dengan suami. Tapi ketika sudah bahagia dengan Allah, maka Allah akan memberikan kebahagiaan yang melampaui apa pun yang dirasa selama ini. Kebahagiaan bersama makhluk itu fana', kerana makhluk itu tidak mampu memberi manfaat. Tapi kebahagiaan bersama Allah; hakiki.

Makanya mahu susah mahu senang seharusnya sama. Seperti siang malam. Dipuji dicaci sama. Hanya getaran udara yang merambat ke gegendang telinga kita. Kita gembirakan bukan oleh pujiannya, tapi oleh nafsu kita yang ingin dipuji. Kita sedih kan bukan oleh cacian. Kita sedih kerana nafsu kita ingin dihormati. Kerana nafsu yang ingin dihormati tidak ikhlas jadilah dia sedih ketika penghormatan itu tidak ada.

Marilah kita minta pertolongan Allah, agar kita mampu membuka pintu hikmah sehinggan boleh melihat Allah dibalik pintu kejadian.

Wallahu'alam

sumber:Petikan ceramah Aagym. Warna-warni kehidupan


p/s: sahabat-sahabat saya, kepahitan itu tanda Allah sayang. Kembali kepada Allah. Segala hikmah yang Allah beri pasti menyebabkan kita menjadi peribadi berkualiti. Lihatlah Allah; dibalik semua kejadian ada peranan Allah yang berbuat baik kepada kita. Allah lebih mencintai kita berbanding kita mencintai diri kita sendiri.

Thursday, May 5, 2011

Memiliki anak berjiwa besar


Melentur buluh biarlah dari rebungnya.

Anak-anak ibarat kain putih, maka ibu bapalah yang mencorakkannya sama ada nak warna hijau, kuning kedondong, biru laut atau sebagainya.

Begitulah betapa pentingnya tanggungjawab sebagai ibu bapa dalam pembentukan generasi muda.

Bukan satu perkara yang mudah, kerana melibatkan seluruh aspek dalam sisi kehidupan sebagai seorang penjamin mereka di akhirat kelak untuk dikorbankan.

Ibarat satu pelaburan. Inilah pelaburan akhirat. Yang menuntut penderitaan dan azab di dunia.

Berdiskusi bersama sahabat-sahabat saya tentang bagaimana memiliki anak-anak berjiwa besar.

Kuncinya, ibu bapa hendaklah menjadikan dirinya berjiwa besar terlebih dahulu.

Bagaimana ingin menghasilkan sesuatu yang baik sedangkan sumber asasnya tidaklah begitu baik. Itu ikut hukum logik. Melainkan dengan izin Allah perkara itu akan terjadi.

Bagaimana menjadi seorang yang berjiwa besar?

1. Solat sunat 2 rakaat sebelum azan subuh setiap hari tanpa gagal
2.Membaca Al-Qur'an sekurang-kurangnya 2 muka surat setiap hari tanpa gagal
3. Mendahulukan pengisian hati berbanding pengisian untuk perut. Makanya hati itu perlu diberi sarapan dengan dzikrullah terlebih dahulu sebelum meyuap mulut untuk mengisi perut.
4.Menginfaqkan harta yang paling diperlukan dan paling disukai kepada yang memerlukan. Bukan bersedekah dengan harta yang kita tidak mahu lagi. Ibarat memberi saki baki kepada orang lain
.

Berbicara tentang hal ini dengan belahan jiwa. Mengundang tangis. Nampak seperti mudah. Hakikatnya ingin istiqomah memerlukan kekuatan. Walaupun hanya 2 rakaat solat sunat. Solat sunat dihening pagi yang ikhlas lillahi ta'ala tanpa diiringi unsur-unsur 'ujub, berbangga dengan diri sendiri dan suci. Kesabaran dalam meluruskan niat. Agak berat dan besar pekerjaannya, lagi-lagi menguruskan hati yang selalu berbolak balik yang menghuni di dalam dada.

Bagaimana menjadikan kaleziman membaca Al-Qur'an dengan kualiti yang tinggi. Di mana ayat-ayat yang dibaca itu akhirnya berjaya melepasi tenggorok dan terus laju menyentap hati. Sehinggakan kekerdilan, keinsafan, ketaatan itu timbul dalam diri. Dan melakukan proses pengislahan bukan untuk diri sendiri sahaja, bahkan untuk orang lain juga.

Mengapa tidak mahu menjadikan dzikrullah di dini hari sebagai satu kewajipan? Ibarat menjadikan rutin harian menggosok gigi. Apa rasanya bila seharian kita tak gosok gigi? Terasa tebal di dalam mulut dan tidak selesa. Dahulukan pengisian hati yang menjadi raja bagi seluruh anggota badan. Hak raja mesti didahulukan agar kepimpinan kepada anggota yang lain tulus, lurus dan kudus lillahi ta'ala tak kira la apa yang kita lakukan. Asalkan niatnya lurus, berlandaskan syaria'tullah dan akhirnya kita lakukan dengan bersungguh-sungguh.

Infaqlah apa yang kita sukai, sayangi kepada yang lebih memerlukan. Sebagai tanda kita lebih berkorban atas dasar ukhuwah Islamiyyah yang selalu dilaung-laungkan. Jika kita mencintai seseorang, maka kamu akan memberikan yang terbaik untuknya. Dari infaq yang kita keluarkan, hati kita dapat nilai sedalam mana cinta dan sayang kita terhadap saudara yang memerlukan itu.

Mahu menjadi seorang yang berjiwa besar, mahu memulai perubahan untuk menjadi orang berjiwa besar, mahu memiliki anak-anak berjiwa besar,maka kembalikanlah diri kita kepada tarbiyah Islamiyah. Lebih-lebih lagi dalam suasana kehidupan kita yang mencabar kini. Membelit dan melilit diri kita, menjadikan kita lemas dengan belitan itu, dan akhirnya kita di telan oleh suasana jahiliyyah dan yang tak soleh. Makanya tarbiyah yang berterusan sangat diperlukan.Ayuh!! Islah nafsaka, wad'u ghairuka!!

Wallahu'alam

p/s:memulai perubahan itu, mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal yang kecil-kecil, dan mulailah saat ini. All the best. Moga Allah bantu proses istiqomah kita. [*directly to my belahan jiwa *]